Seputar IPM

Gimana kabar Irmawan Jalil … ? sukses yo TM IIInya, mohon maaf beberapa hari ini lagi sibuk dan tidak sempat membalas tulisannya Jalil.

 

Beberapa hal yang saya pahami dari prosesi ini mungkin bisa saya jelaskan pertama, saya juga melihat tata urutan yang menjadi landasan dari konsederan SK tersebut memang tidak terstruktur dengan baik, dan karena itu pula, maka PP IRM melakukan komunikasi/klarifik asi dengan PP Muhammadiyah, termasuk kemungkinan salah tafsir atas surat PP IRM itu. Setelah mendengar penjelasan PP Muhammadiyah, memang (1) landasan yuridis yang dijadikan dasar hukum adalah keputusan tanwir, yang kemudian diplenokan oleh PP Muhammadiyah tgl 11 Mei di Jakarta dan Qaidah otom (2) landasan sosiologisnya adalah sebagaimana di point SK tentang pelarangan organisasi pelajar selain osis dan karena rezim telah bubar, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak berubah.

 

Kedua, ada atau pun tidak ada surat PP IRM perihal permohonan pernyataan itu, maka cepat atau lambat SK ini memang akan dikeluarkan PP Muhammadiyah, setuju atau tidak setuju. Dengan logika yang dipakai oleh Muhammadiyah bahwa IRM adalah sub sistem dari Muhammadiyah, yang saya bahasakan dengan logika holding dalam posting saya kemarin.

 

Jalil juga jangan ahistoris dengan proses-proses yang selama ini berjalan dalam siklus dari periode keperiode termasuk dengan sejarah kelahiran IPM, bagaimana organisasi ini ditindas oleh rezim totaliter Soeharto, yang lalim dan despotik. Sebab melupakan sejarah juga adalah bagian dari pengkhianatan perjuangan pada founding father lembaga ini.

 

Dalam setiap proses perubahan pada sebuah siklus rezim, maka secara natural akan ada tiga (3) golongan manusia : Pertama, golongan manusia yang antusias dan pro perubahan. Kedua, golongan yang status quo atau anti perubahan. Biasanya golongan ini adalah golongan elit yang sudah mapan memiliki kekuasaan dan karena itu perubahan dianggap mengganggu kekuasaannya. Sehingga mata dan telinganya sudah tertutup dengan ayat-ayat Tuhan dan tidak mau menerima perubahan. Ketiga, golongan yang memilih untuk menunggu “wait and see” apabila perubahan menguntungkan maka dia akan ikut dan jika perubahan merugikan, maka ia akan menjadi penentang. Golongan ini adalah golongan para pialang yang sangat pragmatis.

Soal perubahan nomenklatur dari IRM – IPM, maka memang yang paling berkepentingan adalah para elit yang saat ini memegang kuasa, sebab bolah jadi kakuasaannya akan terganggu dan saya kira kita mahfum itu lah. Sebab watak kekuasaan memang demikian pragmatis. Sehingga memang pada akhirnya kita akan memilih apakah akan ikut dengan aturan persyarikatan Muhammadiyah atau tidak ? lalu Irmawan Jalil menyebut, ini akan membunuh kader, maka kita juga patut bertanya, kader yang mana …? Sekarang perubahan nomenklatur telah menjadi keputusan yang mengikat, tinggal menunggu Konpiwil saja sebagai momentum perubahan itu secara formal organisasi.

Soal perusahaan dengan perkederan sebagaimana disampaikan Jalil, yah jelas berbeda dungk, dan bedanya tiga trilyun derajat. Perusahaan adalah profit, menumpuk kapital. Sedangkan perkaderan adalah proses mencari kebenaran dan upaya memahami realitas.

 

Secara ontologis perkaderan IRM adalah tarbiyah (education). Tarbiyah merupakan unsur utama dalam perkaderan sebab dengan tarbiyah proses perubahan akan dimulai. Sebagaimana Adam ketika diajarkan nama-nama dalam al-Qur’an. Sesungguhnya hal ini menunjukkan proses pembelajaran bahwa unsur utama dalam kehidupan manusia adalah belajar, dan proses belajar ini disebut dengan pendidikan. Sedangkan tarbiyah menuntut terjadinya transformasi kesadaran nilai kader secara manusiawi. Artinya transformasi kesadaran nilai kader tersebut harus ditanamkan secara berimbang dalam tiga ranah (1) penalaran, (2) spiritualitas/ keimanan (ruhiyyah), (3) kesehatan – jasadiyah -.

 

Sedangkan secara epistemologis perkaderan dimaknai sebagai menumbuhkan kesadaran nilai-nilai (ke Islaman, Muhammadiyahan, ke ilmuwan, kemanusiaan dan kebudayaan) kaderisasi.

 

Soal kenapa banyak kader yang lari ketempat lain – PKS, Hizbuttahrir, Salafiyah, Jamaah Islamiyah,dll – saya setuju dengan Jalil, mereka kecewa karena dalam proses perkaderan terutama model SPI Biru dengan instruktur. Perkaderan menjadi wadah kemunafikan yang paling besar dalam sejarah perkaderan, sebab disana Instruktur di setting menjadi seorang yang sholeh, dan semua dibingkai dalam kerangka imagologi dan simulakra. Karena kader kecewa sebab apa yang kader (peserta TM) terima di forum TM, berbeda tiga trilyun derajat dengan perilaku instrukturnya. Instruktur yang selama forum perkaderan sangat sholeh ternyata realitasnya tidak, sebuah kebohongan kan.

 

Kelahiran SPI Hijau dengan sejumlah kekurangannya dilengkapi sistem keFasilitatoran setidaknya membuat saya sedikir berbesar hati, sebab kita belajar di TM-TM apa adanya sesuai dengan realitasnya. Tidak lagi simulakra dan imagologi.

 

Dan akhirnya Irmawan Jalil sendiri yang menjawab pertanyaan saya tentang status quo, dengan mengatakan “sesuatu yang saat ini sudah mapan jangan diributkan dengan hal-hal yang tidak perlu. Sekarang saatnya kita berkarya. perubahan nama adalah sesuatu yang tidak substantif”.

 

Tidak bolehkah kita mempertanyakan atau bahkan menggugat sesuatu yang mapan? sebab kepamapanan sering membuat lupa diri dan tidak lagi perhatian dengan orang-orang kecil, miskin, dhuafa dan mustadha’afin.

 

Akhirnya di dunia ini tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Karena itu, maka perubahan adalah keniscayaan sejarah. Revolusi memang terkadang harus membunuh. Membunuh penindas-penindas orang kecil. Tetapi ketika perubahan bisa dilakukan dengan damai kenapa tidak?

 

Selamat kelahiran kembali IPM …

Wassalam

 

Mul

 

IPM-IRM-IPM

ini merupakan ringkasan diskusi mengenai tema perubahan nama URM/IPM setelah Tanwir Muhammadiyah sampai dengan keluarnya SK PP Muhamamdiyah No.60 tahun 2007 tentang mengembalikan nomenklatur IPM. Semoga rekaman jejak ini memberikan kontribusi dalam pendewasaan gerakan di hari mendatang yang makin dinamis, cerdas dan mencerahkan. Amin. Selamat menyimak!!

juniardi firdaus” <jfsurahman@yahoo.co.id>

Sekadar informasi

Dalam keputusan sidang tanwir Muhammadiyah di Yogyakrta telah disepakati bahwa nama IRM akan kembali lagi ke IPM. hal ini dapat dilihat di Suara Muhammadiyah rubrik sajian khusus tanwir hal. 2. Bab A: Organisasi, poin 3. yang berbunyi:
Kaderisasi: Setiap pimpinan persyarikatan dan amal usaha harus mengikuti proses perkaderan persyarikatan sehingga diperlukan sistem, kode etik dan mekanisme rekruitmen termasuk dalam Korps Mubaligh. Kaderisasi dapat dilakukan melalui ortom dan AUM. Pengelola PTM/AUM harus merupakan seorang tenaga profesional sekaligus kader Muhammadiyah. IRM agar kembali ke IPM sebagai satu upaya penataan ortom AMM.

awal jalil” awal_jalil@yahoo.com>wrote

alasan penataan saya pikir masih belum relevan.

pola pikir kita dengan Muhammadiyah jelas beda.

gimana hasil kerja tim eksistensi IPM/IRM?

slm

iskam triwibowo” <is_came@yahoo.com

masalah perubahan nama ipm irm sepertinya sudah membuat bapak2 muhammadiyah gerah pasalnya setiap muktamar isu perubahan ke ipm terus di gulirkan sampe gak ada bosen-bosennya, so mungkin ini klimak kekesalan bapak-bapak pada oknum irm yang mengingin kanperubahan ke ipm. so tugas baru buat kepemimpinan sekarang untuk menaggapi n merumuskan kembali kemanairm nanti so met berjuang.

hasumut” <hasumut@yahoo.co.id

assalamualaikum
saya sempat terkejut pada saat pwm mensosialisasikan hasil sidang tanwir kemarin di yogyakarta perihal perubahan nama irm kembali keipm. karena masalah ini masuk sebagai salah satu rekomendasi siding tanwir. Berarti tim eksistensi sudah berjalan dong? Tapi irmawan/irmawati sumut kok gak pernah dengar kabar tim ini berjalan,siapa ketua tim and anggotanya kita di sumut gak pernah tahu. Tapi yang dikesalkan kenapa harus di event muhammadiyah ini disampaikan kenapa enggak di eventnya IRM. Tanya kenapa?

andy wijaya <irmawan_andy@ yahoo.co. id> wrote:

Belum juga selesai bekerja, tim eksistensi nama (PP IRM) sudah di dahului eksistensinya oleh PP Muhammadiyah.melalui SK No. 60/KEP/I.0/B/ 2007 PP muhammadiyah akhirnya merubah nomenklatur Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)


From: Diah Puspitarini <mbakdiyah_84@yahoo.com

Ketika saya tau bahwa dalam Tanwir Muhammadiyah merekomendasikan dan setelah itu memutuskan untuk keberubahan nama IRM ke IPM, jujur mmebuat saya berfikir tentang iaktan kita ini.
Seperjalanan setelah hasil Muktamar Medan untuk mengadakan tim Eksistensi, mencari rumusan terbaik untuk keberubahan nama, dari ulai efek kulture, definisi, konstitusi, bahkan sampai finansial. Ini sama artinya bahwa kita membutuhkan pertimbangan yang sangat mantang, sehingga siap dengan resiko…bukan apa2, ini bentuk pendewasaan kita di IRM. Namun, jika kemudian SK telah dibuat, saya lantas berfikir lagi…

1. Apakah ayahanda kita sudah mantang sekali mempertimbangkan. .ya mungkin dikdasmen kedepan bisa bentu2 dana lah….

2. Jangan2 hanya keinginan untuk romantisme masa lampau ya….IPM lebih militan ketimang IRM.

3. Kalau konteks ideologis, ya…saya sepakat saja, tapi apa kita sudah siap dengan penejaman ideologi kita dan lebih progersif tentunya.

4. Atau jangan2 juga ayahanda kita sudah tidak percaya lagi dengan kita. Lha wong Muktamar saja sampai punya Pe-eR.

Kenapa PP IRM sampai saat ini belum bersikap?

Membreakdown kan sebuah keputusan bukanlah hal mudah, terlebih kalau dilihat kronologisnya sangat lucu. Yang mengusulkan perubahan nama Ayahanda, notabene mereka para muasis kita, tapi yang kena sampurnya kita juga kan sebagai penggreka di grassroot, yang sekarang masih menggerakkan IRM.
Dan..format pendekonstruksian ulang IPM sedang dikaji, ini perlu waktu bung, karena banyak hal yang harus dikaji ulang dari Ikatan kita, terutama konstitusi yang menganut aliran sendirian..atau referensinya sudah jadul. Coba ditunggu momentum Konpiwil ke depan yang akan dilaksanakan di……
Yang penting kita uktikan, semakin militan kah lketika berubah ke IPM or..?


Mbak Diyah, Sekretaris Irmawati PP IRM

salam,

wah aku di malang, sebenarnya mau baca SK itu. saya dan beberapa temen PP IRM di malang ada agenda PIP yaitu launching Gerakan Amal Hibah Buku Nasional dan beberapa agenda lain (talkshow dengan penulis Novel nagabonar, jurnalistik for teenegar, bedah Buku)di Arena Islamic Bookfair bersama temen PW Jatim dan PD IRM Kota Malang, Kab. Malnag dan PD IRM Kota batu dan unforgetable timdari Majalh Kuntum dan Jawa Pos..alhamdulillah kegiatan berjalan dengan baik dan sangat ramai sebab partisipasi PP Muhammadiyah, UMM, PDM Kota malang dan Ortomnya yang memfasilitasi nPP IRM selama di Malang moga tidak merepotkan he..heee. Aku di malang diskusi dengan temen2 di PDM kota malang(IRM, IMM, PM, PDM), ada satu kesimpulan yang menggelitik kenapa ya kecenderungan PP Muhamamdiyah kita ini kok selalu menggunakan senjata SK (pasca SK 149 ttg konsolidasi organisasi dan “PKS”) kini muncul SK balik nama IPM (bahasa kerennya nomenklatur IPM). saya pribadi bukanlah anti IPM hanya ingin proses berjalan dengan sehat, kritis, cerdas, dan terarah. kalau dulu alasan berubah IRM ke IPM karena tekanan rezim Orde Baru itu masih keren banget?siapa bilang tidak? tapi kalau tahun ini IRM memilih kembali ke IPM karena SK PP Muhamamdiyah kan nggak cerdas banget? iya kan? Harusnya tim eksistensi tetap jalankan amanah Muktamar XV Medan yang lalu dan hanya menjadikan SK PP Muhammadiyah sebagai salah satu masukan sama dengan surat pernyataan majelis, dan Ortom tingkat pusat. Ayo ortom mana yang nggak kasih jawaban akan didenda he..heee takut apa nggak sempat sich?

gitulah aku belum baca naskah SK No. 60 itu. so belum paham benar. masmulyadi tolonglah jangan lama2 ngefaxnya kita sedang menunggu ini.

Malang kota sejuta akhwat, 2 Juni 2007.

salam

dek pendi!!

“setiap manusia adalah sejarawan bagi dirinya sendiri”

(carl Backer)

muhib jaya <om_djaya2000@ yahoo.com> wrote:

saya yakin, teman-teman memiliki tanda tanya besar (sebagai kader yang krits) koq bisa bisanya ya PP Muhammadiyah ngeluarin SK Nomenklatur IRM to IPM?

ada apa….? terlepas sepakata ati tidak sepakat dengan periubahan nama itu, teman teman tetap haruys arif dsalam mensikapi perbedaan. dan yang apsti, amanat muktamar masih kita pegang. saat ini tim eksistensi baru menjalankan kerja-kerja sosialnya. biarkan tim in i bekerja, dan kita tunggu laporan kerjanya. untuk diketahui bagi IRMawan dan IRMawati semua. Tim Eksistensi di Koordinator- i Irmawan Ridlo Alhamdi
Anggota tim eksistensi terdiri dari:

1. Ketua PP IRM sekarang (dakkir)

2. Ketua PP IRM periode yang lalu (rais)

3. perwakilan dari PW IRM yang Pro berubah ke IPM

4. Perwakilan dari PW IRM yang Pro tetep IRM

5. Ortom-2 tingkat pusat dan PP Muhammadiyah

sejauh yang saya ketahui, tim eksistensi sudah berjalan dengan melayangkan surat ke ortom-ortom tyingkat pusat dan PP Muhammadiyah, yang berisi: Permohonan pernyataan dari masing-masing ortom dan PP Muhammadiyah perihal Ikatan Kita ini. dari surat balasan yang di layangkan tim eksistensi, surat itu nantinya akan digunakan sebagai bahan diskusi teman-teman tim eksistensi untuk menentukan nasib ikatan kita kedepan. dan saatnya nanti dibacakan hasil keputusan tim eksistensi dan tinggal menetapkan. semoga, kita lebih dewasa dalam mensikapi perbedaan


DANAN,
kpsdm pp irm,

david efendi <cakdapiet_ugm83@ yahoo.co. id> wrote:

salam,
ya apa yang disampaikan oleh mas danan ini banyak mengandung “kebenaran” memang tim eksistensi harus sekuat tenaga menjalankan amanah muktamar meski harus tidak sepakat dengan SK namun harusnya mengakomodasi pernyataan PP Muhamamdiyah. maksudnya tidak menafikkan satu sama lain. kita akan berjuang untuk kebersamaan dan dakwah Islam yang mencerahkan, MUhammadiyah punya tanggung jawab mencerahkan kader remaja dan semua kadernya…. jadi kalau SK ini membawa kemunduran sangat disayangkan. Right?

salam
Dek Pendi, PIP

Apa yang harus kita kerjakan???
Jelang Milad IRM ke-46 dan catatan kumal ;SK PP Muhammadiyah

Salam perjuangan !!!

Apresiasi buat teman-teman IRM saat ini, khususnya PP IRM periode kali ini, yang telah menelorkan berbagai kegiatan yang cukup memberi ruang apresiasi buat warganya, termasuk ekspos media yang cukup saat memperingati hari pendidikan, belum cukup itu IRM hadir dengan Hibah Buku nasional dan berbagai macam diskusinya yang sebelumnya juga menyelenggarakan Lokakarya Irmawati dan lainnnya.termasuk semangat kritis transformatif yang diajukan oleh teman-teman IRM se Indonesia menyikapi ruang yang melingkupinya. Semoga Tuhan bersama kita dan mungkin kita di lahirkan untuk mencerahkan bangsa ini?

Namun sebagai refleksi jelang tanggal 18 Juli mendatang, IRM akan genap berusia 46 tahun, suatu usia yang cukup berumur dan tentu saja mengundang sejumlah konsekuensi. Bagaimana dengan IRM sekarang? Apakah IRM hanya akan terperangkap dengan perubahan nama IRM ke IPM apalagi dengan keluarnya SK PP Muhammadiyah ataukah kita maksimalkan arah kebijakan Muktamar 15 sampai 18 sebagaimana yang telah diputuskan di Muktamar Medan? Ataukah kita dengan serius merumuskan secara konkrit agenda aksi IRM yang ada saat ini (mungkin hal ini telah rampung dalam rakernas IRM, dimana agenda aksi tidak parsial dianggap sebagai bidang tersendiri)? atau kita pertanyakan bagaimana dengan pelajar yang menjadi basis utama IRM, apakah sudah maksimal dalam pemberdayaanya selama ini? Atau dengan kata lain sejauh mana peran-peran pimpinan membina ranting sebagai basis gerakan atau menjadi wacana selama ini? Rasanya diskusi, seminar, ataupun workshop jarang terdengar mengangkat tema besar, yang namanya “Ranting”!!! apakah karena selama ini IRM dalam pola gerakannya mirip dengan NGO/LSM sebagai gerakan sosial? Yang menjauh dari fungsi kekaderannya dan gerakan intelektual? Ataukah wacana dan paradigma hanya diam tak mampu menjawab tantangan atau kurang terimplementasi? Padahal kerangka konseptual IRM telah selesai sejak Muktamar Jakarta dan dipermantap dalam Muktamar Jogja mulai dari paradigma gerakan (selanjutnya disebut dasar-dasar gerakan), khittah perjuangan, kepribadian IRM dan kader , manifesto gerakan kritis IRM, sampai agenda aksi yang di gagas kembai pada muktamar di Medan 15-19 Nov 2006.

Atau apa?

Memang terlalu banyak rasanya dalam agenda di kepala kita yang IRM akan tuntaskan, namun saya kira Muktamar terakhir kemarin telah memberikan arah untuk kita kerjakan bersama (mungkin baiknya kita buka-buka tanfidz Muktamar Medan). Secara jujur saya katakan, memang benar banyak yang harus kita lakukan, namun mungkin ada yang menjadi prioritas kita. Sebagai bandingan ada beberapa catatan yang mungkin membutuhan ruang untuk mendiskusikannya ataukah konsep itu kita serahkan saja kepada pimpinan atau siapa? Beberapa catatan itu diantaranya :

1. Agenda aksi IRM (apaka agenda aksi ini telah kita turunkan dalam bentuk konkrit, apakah agenda aksi ini adalah kerja parsial dari sebuah bidang? Apakah agenda aksi ini adalah landasan berpijak menyusun program dan kegiatan sebagai mainstream dari gagasan besar IRM? Atau apa?)

2. Bidang Irmawati ( sebagai bidang yang hadir kembali sejak di bekukan di Muktamar Jakarta rasanya perlu energi untuk menjadikan mainstream bukan hanya sekedar kerjaan bidang tersendiri)

3. Aturan penjelas dari konstitusi ( tak di pungkiri bahwa AD/ART IRM hasil Muktamar Medan masih menyisakan beberapa kerjaan khususnya bagaimana merumuskan aturan operasionalnya sampai kepada bagaimana menyesuaikan dengan aturan-aturan lain, sebab banyak diantara aturan lain yang mestinya di sesuaikan semisal P4O IRM serta aturan operasional dari AD/ART itu sendiri)

4. Pedoman Ranting (sejak periode Muktamar Makassar, buku ini seakan hilang dari peredaran atau kata lain belum tersentuh kembali dalam penyesuainya dengan dinamika perkembangan IRM. Pada periode Muktamar Lampung buku ini kembali di runut dan di baca hingga lahir konsep “yang belum matang”, gagasannya sederhana “semua bidang yang ada terlibat dalam pembinaan ranting. Nah mungkin hal ini perlu juga energi bahkan menjadi ukuran dari sebuah prioritas periode kali ini)

5. IRM di Sekolah Muhammadiyah (ini lebih spesifik tindak lanjut dari hasil rakenas majelis dikdasmen tentang pembinaan IRM di sekolah, juga menyangkut IA/UP IRM, atribut IRM disekolah dan lainnya…bagimana nasibnya?)

6. Tim eksistensi hasil Muktamr Medan, walaupun sedikit agak terlambat. Sebab saya kira andai tim ini bekerja pasca pelantikan maka SK PP Muhmmadiyah tentang Nomenklatur IRM ke IPM mungkin belum akan keluar. Sebab idealnya Tim ini telah merumuskan agenda kerja yang harus dilakukannya termasuk persiapan menghadapi Tanwir Muhammadiyah di Yogya beberapa waktu lalu dan kalau ini terjadi maka Tim atas nama PP IRM akan meminta kepada Muhammadiyah untuk tidak membahas persoalan perubahan nama ini sebelum Tim bekerja. Tapi mungkin ada asumsi lain yang di bangun oleh Tim yang saya sendiri tidak mengetahuinya.

7. Dinamika IRM termasuk riak-riak kecil dari beberapa permusyawaratan yang terjadi, mungkin ada baiknya melakukan diskusi khusus bidang organisasi menyikapi hal tersebut yang selanjutnya menjadikannya sebagai pegangan bersama tidak hanya sekedar menggunakan pasal pamungkas kebijakan PP IRM dalam AD/ART IRM.

8. Perubahan IRM ke IPM. Saya memisahkan antara Tim eksistensi dan masalah ini walaupun keduanya terkait erat. Mungkin siapapun akan kaget akan keluarnya SK PP Muhammadiyah tersebut bahkan merasa telah terjadi intervensi oleh Muhammadiyah terhadap IRM. Namun kita berharap hal ini tidak menguras energi terlalu banyak untuk mewacanakannya. Saatnya kita bergerak.Ada beberapa catatan kecil sebagai urung rembug yang kira-kira perspektif pribadi menyikapi hal tersebut :

a) Perubahan ini tidaklah dianggap sebagai intervensi Muhammadiyah terhadap IRM (walaupun secara pribadi, seharusnya Muhammadiyah mendialogkan hal ini dengan IRM dulu, entah bagaimana ataukah kita sendiri -baca IRM-telat atau…..), sebab keluarnya SK tersebut bukanlah tanpa rentetan peristiwa atau tanpa sebab. Perlu kita ingat persoalan perubahan nama telah hadir sejak tahun 1983. Muktamar IPM VI sedianya akan diselenggarakan di Purwokarta Jawa Tengah urung dilaksanakan karena tidak mendapat ijin pemerintah. Akhirnya Muktamar IPM VI diselenggarakan secara terbatas di Yogyakarta tanggal 30 September – 2 Oktober 1983 (ini menyangkut perubahan IPM ke IRM). Dan sejak tahun 1992 IPM resmi menjadi IRM. Dan hal perubahan IRM ke IPM inipun menggaung kembali pada Muktamar ke-12 di Jakarta namun akhirnya dilakukan voting, dimana sebagian besar peserta mempertahankan IRM, begitupun Muktamar-muktamar selanjutnya walaupun tidak menjadi agenda khusus dan nanti pada Muktamar di Medan hal ini diangkat kembali yang akhirnya melahirkan pembentukan tim eksistensi namun bukan perubahan nama ke IPM. Dan perlu di ingat juga pada tanwir baik Muhammadiyah maupun Pemuda Muhammadiyah sebelumnya (saya lupa kapan pastinya) hal meminta untuk kembali ke IPM, namun hal ini hanyalah sebentuk rekomendasi bukan seperti sekarang ini (dalam tanwir jogja masuk dalam komisi A tentang idiologi gerakan dan program yang akhirnya keluar SK PP Muhammadiyah dan perlu diingat juga PP IRM saat itu hadir dalam tanwir Jogja sebagai utusan resmi).

b) Mungkin ini menjadi refleksi bersama dalam menyikapi kaidah ortom Muhammadiyah (sebagai info dalam waktu dekat akan diselengarakan pertemuan membahas kaidah ortom) sebab ini menyangkut hak dan wewenang ortom dan sebagainya. Salah satu point dalam SK PP Muhammadiyah adalah menyebut kaidah ortom sebagai bahan pertimbangan atau rujukan organisasi dan mengenai kaidah ortom tahun 1982 memang mengisyaratkan kewenangan Tanwir Muhammadiyah diatas keputusan Muktamar ortom juga mengisyaratkan kepatuhan ortom terhadap AD/ART Muhammadiyah (sebagai contoh dalam melakukan tanfidz keputusan Muktamar ortom harus mendapat rekomendasi Muhammadiyah termasuk calon pimpinan, walau hal ini dalam beberapa waktu terakhir kadang terjadi ketidakpatuhan)

c) Perubahan ini tidak serta merta membuat IRM berada dalam posisi IPM atau IRM, mungkin dan menurut saya terlambat disikapi oleh teman-teman PP IRM tapi tidak dianggap bahwa PP IRM adalah penghianat Muktamar (baca dalam mailing list), hanya mungkin telat dalam menyikapi. Sebab kalau hal ini sedini mungkin diantisipasi. Maka, mungkin SK itu belum keluar!!!atau bahkan Tanwir tidak akan membahasnya. Dan inilah seharusnya bagian kerja tim eksistensi.

d) Keluarnya SK PP Muhammadiyah tersebut seharusnya dibarengi dengan sikap PP IRM dalam hal tersebut (bukan berarti PP IRM menerima langsung ) paling tidak memberi penjelasan secara organisasi sehingga tidak melahirkan riak-riak kecil (walaupun riak-riak kecil itu penting dalam pergerakan IRM). Artinya bahwa, keputusan PP Muhammadiyah termasuk sikap teman-teman IRM di beberapa wilayah menjadi bahan referensi buat PP IRM dalam mengambil sikap. Tanpa ada yang di sepelekan!!! Sebab keduanya mengandung unsur pembenaran walaupun perlu klarifikasi dan dialog akan kebenaran itu, mana yang lebih benar.

e) Bahwa perubahan itu adalah romantisme sejarah perlu kita tolak, bahwa perubahan itu adalah intervensi Muhammadiyah perlu kita belajar, bahwa perubahan itu menujukkan militansi belum tentu benar, bahwa perubahan itu adalah seperti teori Holding Company tergantung perspektif kita, bahwa perubahan itu membuat segala apa yang ada di rombak termasuk arah kebijakan dsb, saya kira perlu membacanya, bahwa perubahan itu memberi perubahan tergantung kita, sebab “bola” itu ada di tangan kita (teman-teman IRM )

f) Sehingga mungkin, biar hal ini tidak menimbulkan riak yang besar, maka PP IRM segera mengambil sikap termasuk menjelaskan secara riil kondisi sampai saat ini, juga menjelaskan recara riil apa dan bagaimana seharusnya kerja-kerja tim eksistensi termasuk bagaimana kekuatan hukum dari keputusan tim eksistensi/PP IRM, sebab keputusan tanwir (diatur dalam kaidah ortom dan AD/ART Muhammadiyah dan ini mengikat dalam arti tertib organisasi dan idilogisasi gerakan Muhammadiyah) . Biar kerja tim eksistensi tidak sia-sia, karena mereka dihadapkan kepada keputusan tanwir dan SK PP Muhammadiyah. Dan kalau hal ini terlaksana mungkin inilah yang dimaksud tidak menguras energi secara nasional warga ikatan dalam kebingungannya karena telah diantisipasi dan dikerjakan oleh tim eksistensi.

g) Terakhir. Pertanyaan yang banyak diajukan oleh teman-teman IRM se Indonesia kepada saya lewat SMS ataupun langsung. Bagaimana kekuatan hukum keputusan tanwir dan SK PP Muhammadaiyah tersebut? Dan bagaimana menyikapinya? Dan hubungannya dengan tim eksistensi?. Jawabannya sederhana, dalam kaidah dan aturannya, tanwir memiliki kekuatan hukum yang mengikat tapi tidak berarti independensi ortom tergugat, sehingga perlu kesabaran dan kearifan dan dalam hubungannya dengan tim eksistensi, kita serahkan kajian tersebut sebagaimana amanat Muktamar Medan dan apapun keputusannya, kita tunggu saja, yang pastinya IRM ibarat kapal yang saat ini sedang berlayar, ada ombak kecil yang menghadang tapi tidak berarti kia harus mundur dan surut kebelakang. Karena masih banyak agenda-agenda yang lebih penting walaupun nama itu penting juga!!!

Sekarang saatnya kita baca….bergerak dan bergerak !!!!

Salam perjuangan.

Uchy Ramadhan


“M. Wijaya Kusuma” <moelugm@yahoo. com> wrote:

Saya kira begini, Lahirnya Keputusan PP Muhammadiyah itu adalah merupakan salah satu bagian dari kerja tim eksistensi – yaitu menjaring pandangan berbagai stakeholder – yang menjadi mandate Muktamar XV di Medan.

Saya kira begini teman-teman, mungkin memang kita semua sebagai generasi baru yang tidak bergumul bagaimana masa-masa sulit berhadapan dengan rezim despotik Soeharto. Sehingga kemudian Negara memberikan pilihan mau berubah atau bubar. saya kira pemerintah juga tidak menanyakan siapkah anda berubah? dan kalau ada pertanyaan seperti itu, maka jawabannya pasti tidak. Pertama, memang fungsionaris IPM ketika itu tidak mau berubah nama. Kedua ada nilai yang membedakan terminologi dalam nama itu. Pelajar / Remaja. walaupun ada pameo apalah arti sebuah nama. tetapi tetap saja penting dan mempunyai makna yang strategis. Intrinsik dari nama itu, kemudian familiar bahwa IPM merupakan ruang lahirnya ideolog-ideolog Muhammadiyah. Apa iya? tapi kira-kira begitu menurut saya.


Ketika detik-detik perubahan nama itu, saya masih ingat bagaimana cerita instruktur TM I satu saya, bahwa pilihannya ketika itu, memang pertimbangannnya adalah al-marshalah murshalahnya yang lebih besar ketimbang bubar. dengan satu footnote bahwa “Ketika Rezim totaliter Soeharto berakhir, maka IRM akan kembali lagi ke IPM” (coba teman-teman klarifikasi ini kepada alumni-alumni, apa benar atau tidak?). Lalu belakang hari dicarikan obyektifikasi dan penjelasan bahwa perubahan nama itu antara lain karena keinginan memperluas wilayah dakwah. Kendatipun demikian tidak juga pernah berhasil masuk kewilayah itu – kalaulah ada, mungkin persentasinya sedikit , kira-kira 10% -, toh tetap bergiat di sekolah yang juga tidak maksimal. Maksud hati hendak meraih yang besar, tetapi tidak kesampaian, yang kecil ditinggal dan digaraplah dia oleh Rohis. Inilah kondisi obyektif yang ada. Dan semua orang tau, kalau perubahan nama itu karena kita dipaksa oleh rezim. Saya kira memang kita harus membaca kembali sejarah dan membukanya secara jujur.

Naif juga memang ketika semangat kembali ke IPM itu atas dasar romentisme sejarah masa lalu. Sama naifnya dengan pejuang-pejuang syariat Islam yang ingin mengembalikan potret kehidupan Nabi – kalau tidak mau disebut negara Islam – dalam ruang dan waktu yang sama sekali berbeda dengan zaman Onta dulu. Seperti juga dengan SK PP Muhammadiyah itu. Tetapi logika yang digunakan oleh Muhammadiyah adalah logika holding company. Anda – IRM – kan anak perusahaan saya. dan kalau saya menginginkan berubah jadi X misalnya, yah itu bisa saja. tinggal membicarakannya di rapat pemegang saham. selesai urusan. IRM sebagai anak perusahaan / organisasi otonom yang kelahirannya memang diproyeksikan sebagai organisasi yang bertugas disektor “pelajar” untuk menggarap pelajar-pelajar baik di sekolah Muhammadiyah atau non Muhammadiyah. Sekarang ada yang mesti dicermati (1); sejauh mana wilayah otonomi itu diberikan kepada organisasi ini? (2) Bagaimana pula dengan kaidah Ortom? Bagi Muhammadiyah, memang harus melakukan itu, karena ini milik persyarikatan, kalau anda tidak mau ikut dengan aturan main Muhammadiyah silahkan buat organisasi lain. Misalnya IRM menjadi Ikatan Remaja Masjid. Bagi Muhammadiyah, memang sudah harus hitam putih disini. Sebab kalau tidak, masalah ini tidak akan selesai dab terus akan menjadi polemik dan menghabiskan energi.


Bagi saya yang harus dilakukan sekarang adalah (1) melakukan pleno diperluas dgn pimpinan wilayah, sebab ini bukan hanya urusannya PP IRM, ini urusan kita semua. kan tidak elegan PP IRM langsung memutuskan A atau B. Tetapi harus diingat pilihan bagi kita hanya ada satu mau ikut atau itu tadi. (2) Tim eksistensi tetap melakukan proses-proses yang lain dan pada Konferensi Pimpinan Wilayah nanti melaporkan kerja-kerjanya. dan (3) adalah memasukkan masalah ini sebagai Agenda Penting dalam materi KONPIWIL nanti dan (4) PP IRM harus segera mempersiapkan panitia persiapan perubahan nama (P3N) yang tugasnya adalah [a] menyusun platfrom IPM baru yang di cita-citakan, sebagaimana juga diskusi ditingkat IRM yaitu bagaimana melahirkan kader-kader intelektual yang transformatif atau meminjam istilahnya Gramsci, yaitu Intelektual Organik. kira – kira semangatnya disana (Kritis transformatif) [b] mempersiapkan agenda-agenda strategis perubahan nama itu, [c] dan lain-lain yang dianggap penting. U/ Diyah, militan dan tidaknya bukan karena nama (IPM), tapi karena kontent ideologi yang diyakini dan mampu terinternalisasi dengan baik dalam batok kepala setiap individu.

Sekarang hanya ada dua pilihan ikut aturan PP Muhammadiyah atau get ….

salam hormat.

Masmulyadi
tulisan diatas hanyalah opini pribadi

awal jalil <awal_jalil@yahoo. com> wrote:

Mencermati SK PP Muhammadiyah tentang perubahan nomenklatur, teman-teman Kaltim menemui beberapa kejanggalan. dari poin membaca, ada cacat yang sangat jelas terlihat disini.

PP Muhammadiyah sebelum memutuskan, membaca dua hal yang menjadi acuan dalam mengeluarkan SK ini (lihat SK!). membaca pertama adalah surat dari PP IRM tanggal 12 Mei 2007 yang saya lupa nomornya perihal permohonan pernyataan. artinya PP IRM sendiri sudah mengajukan surat permohonan perubahan nama. padahal, merunut pada tanfidz muktamar IRM, pembahasan tentang perubahan nama hanya ada pada rekomendasi pembentukan tim eksistensi. tim eksistensi bertugas mencari rumusan terbaik untuk perubahan nama, efek baik jangka pendek maupun panjang. hasil kerja tim eksistensi akan dibahas pada permusyawaratan selanjutnya. tidak ada satupun perintah untuk menyuruh tim eksistensi mengajukan perubahan nama ke PP Muhammadiyah.

kesimpulannya dari membaca pertama, teman-teman Kaltim menganggap bahwa PP IRM saat ini telah menjadi pengkhianat hasil muktamar. Membuat tanfidz, namun menjadi yang pertama melanggarnya. mungkin PP saat ini berpaham “aturan di buat untuk di langgar” barangkali.. ….. dari Membaca kedua, tertulis dengan jelas berdasarkan hasil muktamar IRM di Medan……. makin aneh kan? kapan Muktamar menghasilkan perubahan nama? jawab sendiri kali ya….. he… he… he… lebih jelas lihat tanfidz!

kejanggalan lain, PP IRM mengajukan surat pada tanggal 12 mei, sedangkan pleno Muhammadiyah ketika membahas SK ini di lakukan tanggal 11 Mei….

kan aneh? satu hal lagi, tidak ada satupun di SK menyebutkan berdasarkan hasil tanwir. jadi PP Muhammadiyah membuat keputusan ini berdasarkan dari dua hal di poin membaca tadi. Dunia kok ya makin aneh sih? ada hal yang sangat di paksakan dalam mengeluarkan SK ini. Muhammadiyah seolah-olah tahu bahwa mayoritas pimpinan IRM di berbagai level tidak menghendaki adanya perubahan nama. sehingga di percepat dengan menggunakan otoritasnya sebagai ayahanda…

buat mul….

saya pikir yang naif itu anda…. sangat malah…

logika yang anda gunakan adalah holding company.

logika perusahaan jelas sangat berbeda dengan logika perkaderan. saya berpfikir bahwa anda sama dengan Yusuf Kalla yang menganggap bahwa sekolah mirip pabrik, yang bisa ikut standar ya lulus…. kalau tidak sanggup ya proses ulang… kan lucu ketika hal ini berbenturan dengan paradigma yang kita bangun yakni kritis transformatif.

proses perkaderan dengan di bentuknya ortom adalh jelas untuk mempeersiapkan kader Muhammadiyah yang matang untuk mengisi kepemimpinan Muhammadiyah yang akan datang.

jika berpola pikir perusahaan, kapan kader Muhammadiyah bisa berkembang? jika ingin A ternyata pemegang saham ingin B, kan jelas kader tersebut akan semakin mandeg proses berfikirnya.

kalau Mul jadi pemimpin Muhammadiyah dan menerapkan sistem ini, maka Mul adalah seorang pembunuh. pembunuh karakter ribuan calon kader Muhammadiyah. dalam proses perkaderan adalah proses pengembangan karakter dan potensi kader Muhammadiyah.

kalaupun ini mutlak sebagai sebuah keputusan tanpa melibatkan ortom bersangkutan, saya merasa Muhammadiyah telah membunuh para kadernya, termasuk saya walaupun kekaderan saya masih di pertanyakan.

mul malah lebih naif lagi ketika kita di suruh memilih ikut IPM atau get….. seharusnya pertimbangan ribuan kader ini mesti menjadi acuan utama dalam mengambil sikap. saya hanya tidak ingin, teman-teman dalam mengikuti kemauan PP Muhammadiyah dengan setengah hati. mengingat suara mereka tidak di dengar, keinginan mereka tidak di respon karena hanya di berikan dua pilihan. IPM nantinya (kalau berubah) akan berjalan dengan setengah hati juga. coba mul dan teman-teman cari alasan kenapa banyak kader Muhammadiyah yang lari ke organisasi lain, misalnya PKS. sudahkah mengadakan kajian intensif mengenai hal ini? jawabannya satu, kecewa. ini ada ribuan kader Muhammadiyah yang bisa saja kecewa dengan muhammadiyah. Ingat, dalam tingkatan ortom Muhammadiyah paling dasar adalah IRM. artinya, rekrutmen awal kader Muhammadiyah ada di IRM. kan aneh, baru mulai di bangun kekaderannya sudah mendapat kekecewaan. kecewa tentu menimbulkan apriori. bukan begitu teman-teman. ..?

Mul ternyata juga sadar bahwa ini sangat menghabiskan energi, tapi anehnya masih juga di bahas. baru pada tataran diskusi energi yang keluar sangat banyak, belum pada tataran aplikasi. logika sederhana sajalah. sesuatu yang saat ini telah mapan jangan di ributkan dengan hal-hal yang saya pikir tidak perlu. sekarang saat nya kita berkarya. perubahan nama adalah sesuatu yang tidak substantif.

sekarang pertanyaanya, kok masih ada sekolah muhammadiyah yang belum tergarap oleh IRM? apakah ada oknum yang menghalangi atau IRM sendiri yang belum sanggup?

ada banyak yang mesti di benahi selain hanya sekedar perubahan nama. menurut saya, kalau sudah matang baik secara organisasi maupun SDM, perubahan nama tentu tidak menjadi masalah. IRM masih banyak menghadapi masalah yang mesti di pecahkan. pola perkaderan yang banyak meninggalkan cacat hingga konsep ranting yang juga masih samar-samar.

semoga teman-teman lebih berfikir kritis mencari akar permasalahan yang sesungguhnya. kritis jangan hanya jadi platform tapi juga diaplikasikan.

Salam dari kaltim

Awaluddin Jalil

Kader yang hingga hari ini belum jelas kekaderannya.

Assalamu’alaikum. ….
Saya sangat kecewa dengan keputusan PP Muhammadiyah, tanpa adanya komunikasi yang jelas. Saya sangat terkejut ketika membaca surat masuk PP Muhammadiyah tentang perubahan nama IRM-IPM. Saya rasa ini kurang logis, Kami dari PD IRM Banda Aceh sangat tidak sepakat kalau IRM kembali ke IPM.Ingat…!!! Setelah kami berbincang-bincang dengan beberapa pengurus IRM Aceh, kami menolak keputusan ini, kami berharap kepada PP IRM agar menindak lanjuti SK PP Muhammadiyah tentang perubahan nama IRM-IPM, PP IRM harus tegas dan bijaksana dalam menyikapi masalah ini. so pasti men? Saya juga sepakat dengan keputusan temen2 IRM se-Indonesia. tetap kita pertahankan nama IRM atau Bubar…..!! bubar aja men…..ayooo kita bubar aja….itu aja kok repot!

kita sebagai remaja harus kritis jangan loyooo..semangat. …

Hidup IRM? IRM tetap berjaya, Allahuakbar3x.


By: PD IRM Banda Aceh,

Eka Satria

Mars

Mars :

 

Pelajar Muhammadiyah

Tetap teguh bersatu

Dalam menuntut Ilmu

 

Dalam sekolah kita

Menjadi sejahtera

Untuk selama-lamanya

Reff:

Hiduplah IPM kita

Bangunlah IPM kita

Jayalah IPM kita

Untuk selama-lamanya

IPM

Gerakan Iqro’

Teologi Gerakan Iqro’

Oleh: Cak Dapiet

“Bacalah, dengan menyebut nama tuhanmu………”

(Q.s. Al-Alaq)

Karena perintah membaca adalah perintah yang agungb dari Allah. Maka ada teologi gerakan Iqro’ . mengandung konsekuensi untuk diperjaungkan dengan kesungguhan. Perintah membaca, adalah kata pertama dari wahyu pertama yang diterimah oleh nabi Muhammad saw. Kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang dua kali rangkaian wahyu pertama. Mungkin sangat emngeherankan manakalah perintah ini ditrurnkan pada seorang manusia yang tidak pernah membaca buku sebelumnya, apalagi belajar dibangku sekolah. Bahkan seorang yang sampai akhir hayatnya tidak pandai membaca tulisan. Namun, keraguan ini akan sirna jika kita menyadari bahwasanya arti iqro’ tidak cukup membaca tulisan saja dan disadari pula bahwa perintah membaca bukan hanya ditujukan pada seorang nabi melainkan seluruh umat manusia yang trehampar di muka bumi ini. Karena membaca adalah kunci gerbang pembuka menuju kebahagiaan di dunia dan akherat.

Kata iqro’ yang terambil pada kata qara’a pada mulanya berarti ”menghimpun”. Arti asal kata ini menunjukkan bahwa iqro’, yang diterjemahkan dengan ”bacalah”, tidak mengharuskan adanya teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar orang lain. Karenanya dapat kita temukan dalam kamus-kamus bahasa, beraneka ragam arti dari kata tersebut-antara lain, menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, memahami, mengetahui ciri-cirinya, dan sebagainya, yang kesemuanya dapat dikembalikan pada hakiket ”menghimpun” yang merupakan akar arti kata tersebut.

Membaca itu WAJIB

Kawan, sejarah makhluk yang bernama manusia ini, secara global dapat dibagi menjadi dua yang memisahkan antara peradaban lama dan baru. Yaitu fase sebelum penemuan tulis-baca dan sesudahnya, sekitar lima ribu tahun yang lalu. Kita sekarang ada di fase yang kedua tapi masih banyak yang merasa tinggal diabad kegelapan, dark age (baca:belum kenal tulisan).

Transformasi masyarakat tradisional (traditionlity comunity) menuju masyarakat modern (modern comunity) yang terjadi pada negara-negara di Timur tengah maupun di negara Asia-Afrika senantiasa tidak terpisahkan oleh peranan media masa yang ditopang dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya melek huruf (pendidikan) selain berinteraksi dengan masyarakat luar (inklusive) sehingga senantiasa perubahan atau modernisasi akan dapat disesuaikan dengan nilai-nilai budaya lokal (kearifan lokal) yang menjadikan masyarakat tidak terjebak pada gelombang westernisasi yang memang diciptakan untuk mendominasi budaya masyarakat dunia. Jadi, tidak benar kalau westernisasi itu berjalan ilmiah dan menjadi sebuah suatu keharusan. Namun westernisasi merupakan sebuah proses yang disengaja, by desaign bukan semata-mata by accident. Golongan pemilik modal merupakan pihak yang paling bersemangat untuk menggelontorkan semangat globalisasi, modernisasi yang secara substansi adalah bentuk baru dari imperealisme dan kolonialisme yang menyamar dan datang/didatangkan ke negara-negara yang sedang bekembang (baca:miskin berutang) sebagai dewa penyelamat.

Kita tidak bisa mencegah dunia yang sedang tunggang langgang (the Run Way World) sebagaimana yang dikemukakan oleh Giddens. Banyak diantara kita yang pesimis sebagai bangsa Indonesia namun kita tidak boleh berkubang terlalu jauh dalam psimisme melainkan kita harus bangkit dan belajar, meminjam istilah Buya Syafi’i Ma’arif agar supaya kita tidak terjajah secara berkesinambungan dan menghadapi nestapa hidup yang berkepanjangan. Keterbelakangan dan kebodohan harus diperangi dengan semangat masyarakat untuk terus belajar (learning society). Belajar dari kegagalan masa lalu dan kejayaan untuk kemudian melakukan proyeksi menuju masa depan yang lebih terang benderang. Membaca adalah suatu jalan pintas untuk mencapai puncak kejayaan. Ia mengajarkan pada kita apa-apa yang belum kita ketahui.

Gak suka Baca? Apa Kata dunia?

Mungkin kita masih ingat tema utama muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang beberapa bulan yang lalu, yaitu pencerahan peradaban. Dan dengan membacalah pencerahan suatu bangsa dapat diraih. Tepat sekali manakalah bangsa ini sedang ditimpa kemalasan membaca, di sekolah tidak membudayakan baca selain hanya mengerjakan tugas dan tugas, setiap hari setiap waktu bahkan sebagain guru kita hanya mampir ke kelas untuk memberikan setumpuk PR. Ini bukan pendidikan yang tepat di zaman yang sedang berubah bahkan itu harus ditinggalkan sama sekali untuk digantikan dengan model atau paradigma belajar yang berorientasi membaca dan menulis. Banyak potensi baca dan tulis anak didik tidak terpenuhi karena minimnya dan buruknya fasilitas perpustakaan.

Pimpinan pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah misalnya, sebagai gerakan ilmu, kini memfokuskan pada gerakan iqro’ nasional mulai tanggal 2 Mei 2004 yang dideklarasikan di Aula SMP Muhammadiyah Putri Yogyakarta dan ditegaskan di perpustakaan Daerah Kota Malang pada tanggal 3 Juni 2007 yang dihadiri oleh PP Muhammadiyah, PDM Kota Malang dan Ortomnya serta lebih dari seratus pelajar dari Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota batu. Hal ini dimaksudkan untuk menggebrak dan menyerukan pada masyarakat khususnya remaja untuk terus membaca, membaca sekali lagi membaca!

Ketika manusia bergulat dengan peradaban, maka sejak itu manusia terdorong untuk membaca sebagai wujud kepentingan manusia agar tetap survival di dunia. Manusia berkreasi dan berinovasi setelah mampu melakukan pembacaan ayat qauliyah atau kauniyah, terhadap segala hal yang berkenaan dengan kehidupan (realitas) dan upaya membuat perubahan. Mengubah dunia dengan membaca, barangkali itulah yang akan kita bangun sebagai jargon “gerakan iqro” dan “gerakan pena” sebagaimana yang pernah dipesankan Pak Taufiq Ismail kepada keluarga besar IRM: Baca, baca, baca, tulis, tulis, tulis. Selain itu anak-anak atau masyarakat harus sejak dini dibangunkan kesadarannya untuk “gemar membaca dan cinta ilmu pengetahuan”..

Manusia pembejar sejati adalah manusia yang tidak puas dengan ilmu yang ia miliki, seperti padi makin tua makin merunduk, makin berilmu akan merasa belum punya apa-apa sehingga dalam masyarakat pedesaan yang adem-ayem itu merupakan kesempatan yang sangat baik untuk mempertajam ilmu, membaca yang banyak. Maka gerakan baca merupakan suatu strtegi untuk menyelamtkan generasi di desa-desa dan upaya menjadikan desa lahan mencari ilmu dan kantung pendidikan yang santun, jauh dari kapitalisme dan liberalisme yang sedang menyerang perkotaan. Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki atau perempuan dan merupakan sebuah perjalanan tanpa ujung, never ending process.

So….?

Satu hal yang menjadi tantangan terberat kita dalam masyarakat ”tunggang langgang” adalah bagaimana dan mengubaha tradisi “nonton’ dan lisan/oral menjadi tradisi “baca-tulis” (teks), dari kebiasaan konsumsi menjadi produksi sehingga tidak mengalami ketergantungan pada dunia luar yang makin mengesampingkan nilai-nilai moralitas dan agama, kita bisa saksikan tayangan di TV akhir-akhir ini. Yang muda hobi pamer tubuh, yang tua rajin korupsi berjamaah, seperti shof sholat rapi, bahkan yang hafal Al-Quran 30 jus pun masih tergoda korupsi. Sungguh sempurna kerusakan bangsa ini Hal ini menjadi tantangan serius bagi kelanjutan generasi yang akan datang sebab kita akan dihadakan pada arus informasi yang begitu dahsyat sehingga siapa yang tidak dapat mengakses maka akan ditinggalkan jauh oleh roda zaman yang berputar dan kita lagi-lagi akan masuk dalam musium sejarah bangsa yang lumpuh oleh gelombang zaman yang terus berubah. Indonesia ini harusnya tidak terlalu cepat masuk dalam musium sejarah. Setidaknya kita telah mencoba. Dengan apa? Menumbuhkembangkan budaya baca-tulis sebagai salah satu ciri manusia yang adaptif akan semangat zaman. Siapa lagi yang kita andalkan untuk melakukan perubahan di negeri yang tercinta ini kalau bukan kita, kalau kita tidak mulai sekarang lagi, apa mungkin kita tangguhkan sampai hari qiamat. Siapa yang berani??

Dan sebelum berakhir tulisan ini ada pesan yang menarik dari ’Abdullah Darraz : ” Apabila anda membaca Al-Quran maknanya akan jelas dihadapan anda. Tetapi bila anda membacanya sekali lagi, anda akan menemukan makna-makna lagi yang berbeda dengan sebelumnya. Dan seterusnya sampai anda akan menemukan satu kata yang mempunyai arti bermacam-macam. Ayat-ayat Al-Quran bagaikan intan : setiap sudutnya memancarkan cahaya berbeda dengan yang memancar disudut-sudt lainnya. Dan tidak mustahil, bila anda mempersilakan orang lain memandangnya(membaca), ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang anda lihat”.

Demikianlah kedahsyatan perintah membaca dalam Alquran. Membaca adalah jendela dunia, buku adalah sumber ilmu biasakan membaca setiap Waktu!! Membaca selain sebagai tugas individu adalah amanah kehidupan dan tanggungjawab kemanusiaan. You are what you read!!

Walluhu A’lam Bi Asshowab

Referensi

  1. Shihab, M. Quraish, “Membumikan Al-Quran” kumpulan tulisan, Mizan, Bandung,1994
  2. Hernowo, Quantum Reading dan Quantum Writing, Mizan-MLC, Bandung 2004
  3. Majalah Kuntum, Juli 2005
  4. Psikologi gerakan iqro’, 2005(makalah serupa)

Wacana Kritis!

                                                                                                   Hajatan “Mematikan” itu bernama UN

Beberapa bulan kedepan pemerintah Indonesia akan mengadakan dua hajatan besar pertama adalah hajatan demokrasi yang bernama PILKADAL dan yang kedua adalah hajatan pendidikan yang disebut UN (ujian nasional) atau UNAS dulu EBTANAS. Kenapa kok disebut hajatan nasional? Sebab kedua hajatan tersebut tidak pernah terlepas dari intervensi pusat sebagai manifestasi bahwa selama ini otonomi daerah atau otonomi pendidikan berjalan dengan “setengah hati” karena pemrintah pusat tidak sepenuhnya tega melepaskan sebagian kekuasaannya. Pemerintah Pusat tidak pernah membiarkan proses pendidikan berjalani batoom-up sehingga mengebiri hak dan wewenang uru sebagai pendidik. Inilah kontra produktif dari demokratisasi yang digombor-gemborkan pasca reformasi 1998. sejak enam tahun yang lalu. Adakah perubahan dalam dunia pendidikan? Atau adakah kemajuan harapan kita?

Kita semua barangkali sudah tahu bangaimana pemerintah itu ngotot untuk menerapkan kebiajkan UN dan UNAS seolah suara dari luar itu adalah ibarat angin yang berlalu begitu saja, seolah sudah menjadi kewajiban untuk melaksanakan UN tersebut. Kita jadi teringat apa yang dikatakan SBY waktu evaluasi 100 hari pertama apa itu ? yap. Kata I dont Care yang menjadikan seluruh tanah air gempar. Bagaiamna tidak seorang presiden berkata tidak peduli seperti itu kemudian diikuti oleh menterinya lalu seolah meneteri pendidikan juga mengatakan hakl serupa tentang UN. Kebijakan yang membabi buta ini menambah panjang deretan prestasi buruk pemerintah dan tentu akan berimplikasi buruk tentang tingkat kepercayaan masayarakat terhadap pemrintah. Belum lagi di tambah naiknya harga BBM yang sampai saat ini belum ada ujungnya walau ada istilah kompensasi BBM. Kita semua barangkali terlanjur pesimis. Apalagi ada isu kompensasi itu akan dilarikan untuk bantuan korban gempa di Nias. Seolah harapan ini semakin menipis tentang masa depan bangsa terutama masa depan pendidikan.

Beberapa hal yang perlu kita catat dalam kebijakan UN antara lain. Pertama, UN lebih sebagai proyek nasional ketimbang upaya menyelamatkan pendidikan. Hal ini berarti media persemaian jamur korupsi yang subur dan menjanjikan. Tingginya korupsi di Indonesia menyebabkan pemerintah tidak bisa berbuat banyak untuk memberikan subsidi pada institusi-institusi penting di negeri ini, APBN untuk pendidikan sangat minim, pada tahun 2003 amanah konstitusi resmi kita bahwa dana pendidikan yang dianggarkan senilai 20% dan alhammdulillah yang dapat terealisasi sebesar 3,5% (2003) dan 11,8%(2006). Minimnya anggaran pendidikan bagi Indonesia tersebut berimbas dibebankannya beaya pendidikan kepada masyarakat, akibatnya beaya pendidikan semakin mencekik leher rakyat. Dengan adanya kompenssasi BBM harusnya biaya ujian ansional itu gratis. Itu baru kongkrit tapi belum cukup sampai disini kawan.

Kedua, menjadikan pelajar sebagai kelinci percobaan. Semua negara sedang berlomba dengan ilmu pengertahuan dan teknologi mutakhir. Sementara, pada saat yang bersamaan kita, Bangsa Indonesia masih disibukkan oleh persoalan-persolan yang cukup kompleks dan bersifat tekhnis, mulai dari persoalan buruknya kurikulum, biaya pendidikan mahal, profesionalisme guru, komodifikasi pendidikan dan kebijakan pemerintah yang terbiasa gonta-ganti, alias seumur jagung. Apabila ganti menteri maka berubahlah kebijakan tersebut. Sehingga kita dapat simpulkan bahwa selama kurun waktu pemerintah pelajar atau sekolah ahnya dijadikan kelinci percobaan yang tiada kunjung menentu nasibnya.

Ketiga, kebijakan yang anti demokrasi yang berari anti-partisipatoris. Barangkali sudah menjadi “tabiat” pemerintah dalam menuntuskan sebuah kebijakan selalu bersikap elitis dan tidak mau melibatkan grass root sehingga sering kali mendapat resisitensi yang cukup kuat dari masyarakat baik mahasiswa maupun masyarakat umum. Contohnya adalah UU sisdiknas, RUU APP yang heboh dipermukaan itu atau yang biasa dipermainkan pemerintah adalah naik-turun harga BBM.

Kita tahu dunia sedang bergerak (run away world) tapi bangsa kita masih belum siuman dan dunia yang berubah itu menuntut kita untuk mempunyai SDM (sumber daya manusia) yang lebih tangguh dan mempunyai daya ledak kompetensi. Kalau kita lihat wajah pendidikan yang carut marut ini, pelajar hanya jadi kelinci percobaan (obyek eksperimen) maka kita semua tidak tahu apa yang bisa kita lakukan sementara pemerintah kita buta dan tuli melihat realitas yang terus mencekam dan mencekik leher kita semua (bayangkan banyak anak-anak di NTT kembali ke Pohon, membantu ke alas karena tak mampu membayar SPP atau tak ada sekolah yang terjangkau). Lalu siapa yang akan bertanggungjawab semua ini? sampai kapan kewajiban UN yang “mematikan” ini menghegemoni akal dan budi anak Indonesia?

****

Wacana Kritis!!

Pelajar “Menolak Bungkam” 

            Menyikapi perubahan sosial pasca bergulirnya reformasi sejak tahun 1998 yang lalu musti dalam hati kecil kita bertanya apa yang berubah dalam dunia pendidikan kita? tentu kita akan berusaha seobyektif mungkin melihat perubahan sosio-politik, atau sosio-ekonimi bahkan sosio-kultural dalam masyarakat kita yang terkadang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

            Kita masih saja menemukan tulisan diberbagai media bahwa  masih banyak praktek kebijakan atau budaya politik masyarakat yang ke-ordebaru-an. hal ini disebabkan oleh adanya kenyataan dalam kehidupan kolektif kita seperti kebijakan yang sentralistik tentang: seragam, buku wajib, UAN atau sekarang  UN (ujian Nasional) dan sebagainya, dalam ruang kelas kita lihat masih banyak pendidik yang memposisikan dirinya sebagai pusat dari kegiatan belajar mengajar. murid adalah obyek dan guru adalah subyek, guru serba tahu dan murid tidak tahu apa-apa mengakibatkan di kelas hanya berisi kegiatan transfer knowledge yang kesemuanya itu akan berakibat mengahsilkan orang-orang yang takluk pada atasan, bermental kuli dan semakin melanggengkan budaya bisu alias tidak punya kretifitas karena selama pendidikan di sekolah inisiatif dan kebebasan berekspresi tidak diafasilitasi dengan baik maka tak heran akhir-akhir tahun ini banyak siswa melakukan percobaan bunh diri atau lari dari relaitas yang menurut mereka tidak layak untuk diakrabi.

            Gagasan Paulo Freire (pedagogy of the Opressed, 1972) tentang pendidikan yang membebaskan perlu kita apresiasi dan penting untuk dipraktekkan dalam kultur pendidikan kita. kita tidak boleh membiarkan masyarakat kita utamanya pelajar dan mahasiswa berhenti pada level kesadaran magis, atau kesadaran naïf namun membangun kesadaran kritis di kalangan pelajar adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditunda-tunda. kita tahu petaka pendidikan yang gaya “bank” hanya akan melahirkan manusia yang tertindas, bermental kuli atau meminjam bahasanya Emha Ainun nadjib menjadi gelandangan dinegri sendiri, dan jadi robot-robot yang bernyawa bagi penguasa. PR untuk perbaikan pendidikan kita terlampau banyak dan tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat. laporan Bank Dunia menyebutkan keterampilan membaca siswa kelas 4 SD Indonesia paling rendah di Asia Timur. lalu, prestasi siswa SLTP dalam mata pelajaran IPA menempati urutan ke-32 dan Matematikan urutan ke-34 dari 38 negara. soal daya saing, Indonesia menempati rangking ke-37 dari 57 negara(kompas, 28 Sept 2001)

Dari mana kita mulai menyelesaikan PR tersebut? rasanya penting untuk membaca pemikiran Paulo Freire berikut ini. dia membagi kesadran manusia ke dalam tiga tingkatan yang heararkis:

            kesadaran naïf yang melihat bahwa sumber persoalan adalah berasal dari internal manusia sendiri (human error). Jadi, bahasa kita orang yang bertipe kesadran naïf itu tak pernak menyalahkan orang lain. Selalu husnudzhon pada orang atau factor diluar dirinya.

            kebangkitan kekuatan civil society yang meyuburkan nilai-nilai substransial demokrasi, transparansi, keseimbangan (keadilan) harusnya menjadi angin segar untuk melakuakn perubahan metode mengajar dan emndidik dilingkungan sekolah atau keluarga bahkan masyarakat untuk betul-betul menghargai manusia sebagai manusia (memanusiakan manusia), tidak mengangap semua pihak diluarnya sebagai obyek melainkan diposisikan sebagai subyek aktif.

            setiap manusia tak terkecuali pelajar adalah berhak untuk mendesain masa depannya sendiri, tanpa harus dikekang atau dikungkung oleh keterbatasan ruang dan waktu. segala bentuk kebijakan yang merugikan atau mengancam pelajar (misalnya hak belajar atau mendapatkan pendidikan yang berkualkitas dirampas dengan kebijakan mahalnya pendidikan) harus dilawan. karena dalam sebuah masyarakat yang tidak ada pintu untuk protes, menyalurkan aspirasi dan hak-hak pelajar dibatasi oleh kebijakan yang menindas maka sama halnya kita hidup pada zaman kolonial atau orde baru (sudah tidak sesuai dengan semnagat zaman yang kian menuintut kita lebih peka, kritis terhadap situasi dan kondisi yang terus berkembang).  dan apabila kita biarkan msyarakat dalm kebisuan maka sama saja kita menganggap mereka : masyarakat dan pelajar sebagai “manusia mati” karena tak memiliki otonomi.

            Melalui apa kita mengkaunter budaya bisu? salah satunya adalah lewat jalan advokasi yang disana akan memberikan pendidikkan kritis yang memberi p-engetahuan tantang hak-haknya dan juga kewajibannya. selain mampunyai hak asasi juga mempunyai kewajiban asasi. negera yang selama ini hanya menuntut warganya atas kewajiban asasi (bayar pajak, SPP) harus diimbangi dengan pemberian jamianan atau hak yang sebesar-besarnya untuk masyarakat.

Dengan ini masyarakat semakin memilki kesadran kritis, tidak lagi nrimo ing pandom yang berakibat fatalisme akut, dan kita secara riil bisa menggempur budaya bisu yang sudah menjangkiti bangsa Indonesia selama berabad-abad lamanya.

            Selamat berjuang!!!. kita takkan pernah merasakan dampak positif dari perubahan kalau kita hanya bisa berpangku tangan.

 

Jogjakarta, Februari 2005

 

Wacana Kritis!

PILKADA di Mata Pelajar

            Setiap drama politik yang bernama pemilu itu pelajar sering kali menjadi ‘incaran’ bagi partai politik atau tim pemenangan parpol,  bahkan sering pula jadi korban kekerasan politik, kekerasan massa, kekerasan media, dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Artinya apa? Partai politik dan aktor politik sering lupa tidak melakukan pendidikan politik bagi masayarakat atau pelajar melainkan eksploitasi suara untuk mendulang kemenangan dalam kompetisi dalam pemilu. Sebagai akibatnya, pelajar yang notabene pemilih pemula itu kehilangan daya pikir dan daya kritis bahkan cenderung apatis terhadap proses politik yang terjadi di tanah air. Ujung-ujungnya adalah tercerabutnya peran dan aksi pelajar dari realitas social yang nyata. Ini kemuadian oleh beberapa kalangan menyebut bahwa penddikan yang kita lakukan hanya memisahkan atau mengasingkan pelajar dari realitas.

            Pelaksanaan PILKADASUNG makin dekat sebagai konsekuansi dari diberlakukannya UU No 32 Tahun 2004 dan para kontestan sudah mulai pasang kuda-kuda untuk berpacu dalam arena pesta rakyat lokal beberapa bulan kedepan. Bagaimana pelajar menyikapai hal ini? apatis atau kritis?

            Saya termasuk yang tidak setuju kalau ada segerombolan pelajar yang apatis masalahnya karena kita sedang hidup dalam masyarakat yang beruabah (anomaly) maka kalau kita tidak berpartisipasi berarti kita tidak mau diajak berubah menuju kedaan yang lebih baik (better than before) dan kesempatan dalam pilkada adalah kesempatan emas untukmerubah karakter kita, pemimpin kita dan yang terpenting bagi pelajar adalah bagaimana agar kepemimpinan baru itu bisa mengubah (reformasi) potret dunia pendidikan kita yang lintang-pukang dan carut-marut ini menjadi lebih baik dan bermutu.

Maka dalam hal ini pelajar sebaiknya menyatakan dukungan terhadap pesta demokrasi pilkada dan menyatakan akan menggunakan hak pilihnya dengan beberapa catatan. Pertama, pelaksanaan harus LUBER dan JURDIL yang memberikan keteladanan bagi pelajar untuk kemudian diaplikasikan dalam lingkungan mereka.selama ini dinilai pemimpin kurang bisa jadi panutan karena seringkali aks kekerasan pemimpin sering dipertontonkan di media masa secaa vulgar dan bisa jadi peajar sudah punya stereotype terhadap pemimpin mereka. Kedua, pilih calon kepala daerah yang pro-reformasi pendidikan. Reformasi penddikan menjadi penting ditengah masyarakat yang berubah. Pendidikan yang elitis, hanya bisa diakses yang punya modal uang, pendidikan mahal tapi tidak bermutu harus diubah. Salah satu isu lainya adalah masalah UN (ujian naional). Aspirasi dan tuntutan pelajar tidak pernah diberi kesempatan oleh system dominasi sekolah akibatnya mereka kehilangan kebebesan untuk berekspresi dan menyatakan pendapat. Dan yang repenting adalah bagiamana pemerintah pusat atau kepala daerah yang akan dating itu bisa memberikan angin segar terhadap pelajar untuk menikmati pendidikan murah dengan jaminan kualitas dan jaminan masa depan. Pendidikan mahal yang sekarang marak ini juga bukanlah jaminan masa depan. Kita sering mendengar pertanyaan yang memggelitik untuk apa sekolah tinggi kalau hanya untuk menambah angka pengangguran. Ini persoalan yang harus dipecahkan bersama terutama bagi mereka yang berniat jadi kepala daerah guna mempercepat pembangunan sektor manusia yang sekarang banyak mengalami dehumanisasi.

Ketiga, akomadatif terhadap pelajar. Pelajar pemilih pemula hendaknya hanya meilih orang-orang yang punyaa kepeduklian terhadap dunia pendidikan dengan segala persoalan yang melilit. Calon pemimpin itu harus punya agenda jelas atau bila perlu dicantumkan dalam kontrak social untuk pendidikan yang salah satu pasalnya berbunyi bahwa calon kepala daerah  harus akomodatif terhadap aspirasi dan keluhan masyarakat pelajar.

Selain yang ketiga tersebut diatas, pelajar tak perlu bingung-bingung karena menurut hemat penulis isu yang berkembang di lingkungan pelajar tidak sedahsyat di masyarakat luas. Isu SARA, isu konflik primordial dan konflik horizontal tidak pernah terindikasi di lingkungan pelajar. Hal-hal yang sangat politis tidak harus sepenuhnya pelajar pahami misalnya masalah manufer politik, tindak-tanduk tim sukses dan sebagainya namun pelajar hanya mempunyai kewajiban mematok harga mati yaitu pelajar hanya memilih calon yang pro-pendidikan dengan syarat kualifikasi yang jelas maka dari itu hendaklah ada lembaga independen di daerah-daerah yang konsen pada pusat informasi calon kepala daearah katakanlah PILKADA krisis center yang di sana memberikan segala informasi mengenai kompetensi dan prestasi kontestan pilkada baik melalui brosur,  selebaran dan media lainnya. Informasi itu harus valid dan  bersifat obyektif. Hal dimaksudkan untuk mengurangi peluang manipulasi suara atau pemanfaatan pemilih irrasional oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.[dfipm]

 

Eureka!

Efek Rumah Kaca dan Masa Depan Kehidupan

DF)*

            Selain kita perlu mengkritisi persoalan pendidikan yang hampir setiap saat di sorot media dan diseminarkan tentu kita harus membangun kesadaran masyarakat (public awareness) dan respon cepat (early respon) terhadap permasalahan global yang akan mengancam kedaulatan semua negara, mengancam masa depan kemanusiaan dan kehidupan. Jika alam sudah menuinjukkan karaker abnormalnya maka sangatlah mudah kehancuran massal itu terjadi. Belum banyak negara yang cukup peduli terhadap persoalan global yang diakibatkan efek rumah kaca berlebihan atau emisi gas industri atau kendaraan bermotor yaitu CO2 yang kelewat batas. Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Inggris harusnya cukup bertanggung jawab atas kegiatan industri yang sangat besar memberikan kontribusi terhadap pemanasan global akibat gas emisi yang cukup besar.

            Sebelum jauh perlu  kita tahu apakah efek rumah kaca(ERK) itu? ERK adalah analog dari bumi yang terselubungi oleh gelas kaca. Artinya, panas matahari yang masuk ke bumi berupa gelombang radiasi pendek akan dipantulkan ke angkasa dalam bentuk radiasi gelombang panjang. Namun panas yang seharusnya dipantulkan ke angkasa itu terperangkap dalam gelas kaca dan oleh gas rumah kaca sehingga mengakibatkan pemanasan atau meningkatknya suhu permukaan bumi. Inilah yang akan menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Adapun gas rumah kaca yang paling utama itu adalah karbondisoksida(CO2), metana(CH4), dinitro oksida(N2O) yang sebenarnya untuk menjaga agar bumi tetap hangat (jika tidak ada dzat ini suhu bumi akan dingin sekali). Permasalahan muncul manakalah dzat itu melebihi ambang batasnya. Bahan bakar listrik yang berasal dari batu bara dan emisi kendaraan merupakan penyumbang terbesar dari efek rumah kaca dan kebanyakan oleh negara-negara industri maju (Amerika, Jepang, China, dsb).

Persoalan pemanasan global atau efek rumah kaca dan perubahan iklim adalah persoalan universal, semua manusia, semua peradaban yang masih ingin bertahan di muka bumi sehingga perlu adanya upaya bersama yang sungguh-sungguh. Kalau dunia bersatu melawan teroris yang gara-gara pembajakan pesawat yang menabrak gedung WTC (Amerika) yang menewaskan kurang lebih 6000 nyawa mengapa kita idak bersatu melawan ancaman pemanasan global yang berakibat fatal bagi kehidupan flora dan fauna.

Akibat dari pemanasan global atau perubahan iklim ini telah mengakibatkan distruksi di berbagai bidang, politik, dampak ekonomi, sosial dan keamanan. Hal ini senada dengan Gerald Faley dalam bukunya ‘Global Warming: who is Taking the Heat’(1991) menyatakan krisis atau kerusakan lingkungan ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan bumi akibat penebalan lapisan CO2 dan penipisan lapisan ozon (O3) sebagai dampak dari rumah kaca. Tanda-tanda lainnya adalah rawan pangan , permukaan air laut naik makin tinggi, gangguang ekologi, dampak-dampak sosial dan politik, dan perubahan-perubahan iklim yang tidak menentu.

Perubahan iklim bisa jadi mendatangkan banyak bencana di daratan dan di lautan, tsunami, Angin Beliung, Gempa, dan lumpur pans Sidoarjo, kebakaran di belahan bumi lainnya dan sebagainya-dan sebagainya. Analisis yang disampiakan oleh menteri luar Negeri Ingrris juga nampkanya masuk akal bahwa perubahan iklim ini membawa konsekuensi bidang keamanan yang luar biasa, banyak konflik makin menjadi-jadi dipicu oleh perubahan iklim dan pemansan global yang berimplikasi pada perdagangan dan ekonomi, persaingan sumber daya alam. Selain itu, semua negara khawatir dan takut akan kehilangan sumber daya alam yang kian menciut. Lahan hutan makin sempit, sementara gas buang perusahaan besar sudah diambang batas toleraransi dan merubah menjadi kekerasan.

Jangankan otak kita yang kecil ini, lumpur saja menjadi panas dan hutan terbakar serta air laut naik. Ini merupakan salah satu dampak global dari pemanasan global yang dipicu oleh negara-negara super power, maknya negara sok kuasa seperti Amerika harus bertangungjawab atas rencana peledakan planet bumi ini. Beberapa organisasi sudah mendesak Amerika untuk mengurangi gas buangnya demi pengamanan lingkungan global. Apa yang bisa kita lakukan?

Kita memang harus merespon persoalan serius ini sehingga perlu menyampaikan beberapa resum dari laporan panjang PBB setebal 1.572 halaman melalui kajian 441 anggota IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change. Pertama, dampak pemanasan global yaitu meningkatkan suhu permukaan bumi yang mengakibatkan gunung es di Amerika Latin mencair, kemudian mengakibatkan kegagalan panen yang hingga 2050 diprediksi mengakibatkan 130 juta penduduk Asia dan Afrika kelaparan. Bahaya lebih besar yaitu 245 juta jiwa yang kebanyakan tinggal di negara berkembang akan terkena dampak naiknya permukaan laut. Kita bisa membayangkan layaknya film “the day after tomorrow” yang mengkisahkan bencana yang dahsyat dari udara, badai angin, semburan air laut, dan retakan bumi.

Pemanasan global ini akan melenyapkan beberapa spesies dan bencana nasional meningkat, diperkirakan 30 % garis pantai di dunia akan lenyap, akan memicu topan dan badai yang lebih dahsyat ( angin ribut, puting beliung di beberapa tempat di Indonesia menjadi bukti akan kebenaran hal ini). Dampak di Asia sendiri adalah perubahan iklim yang tidak terdeteksi akan memperburuk perekonomian dan kerusakan lingkungan dan tragedi kemanusiaan. Laporannya : setiap kenaikan 2 derajat celcius akan menurunkan produktifitas pertanian di China dan Bangladesh hingga 30 % pada tahun 2050. kelangakaan air meningkat dan ini akan menjadi pemicu sengketa global akibat perebutan sumber daya alam paling penting tersebut. Di beberapa negara air sudah mulai diprivatisasi, kepemilikan air dimiliki oleh pemodal/kapitalis. Patani nanti dilarang mengebor sembarangan dan harus membeli pada pemodal asing atau lokal.

Yang menarik dari laporan ilmiah ini adalah mengatakan (pada 2 februari 2007 yang lalu di Paris): “tinjauan ilmiah terhadap pemanasan global menyatakan sedkitnya 90% keyakinan pemanasan global ini diakibtakan oleh kesalahan manusia (human error) seperti apa yang disebutkan dalam al Qur’an bahwa telah terjadi kerusakan di daratan dan lautan akibat ulah tangan dan kaki manusia.

            Beberapa  fakta, untuk mengurangi dampak ini diperlukan kecerdasan untuk adaptasi terhadap lingkungan yang tiada menentu tersebut dengan berbagai cara inovasi. Misalnya beberapa petani di Nusa Tenggara Timur menanam 3 biji dalam satu lubang untuk menghindari ketidakcocokan alam dengan apa yang dtanamnya.

            IRM sebagai gerakan yang duhuni jutaan anak muda dan tentunya organisasi pelajar yang lainnya bisa mengupayakan antisipasi dini terhadap gejala dampak pemanasan global tersebut dengan mencoba mengkampayekan kesadaran publik (public awareness), kegiatan yang ramah lingkungan, hemat atau tidak memakai(kalau bisa) BBM yang berasal dari bahan bakar fosil: bensin, solar, dll, yang tidak dapat diperbarui, menyuarakan melalaui media akan dampak emisi gak CO2 atau mengirim surat ke PBB untuk menindak negara yang berlomba-lomba dalam tekhnologi canggih yang mengabaikan dampak lingkungan dan pemanasan global yang berakibat pada bencana lingkungan. Kita sendiri prihatin di Indonesia hutan telah mengalami kerusakan yang nyaris sempurna, bahkan kabar terakhir Indonesia akan masuk dalam daftar peraih rekord dunia the guinnes book record dengan prestasi perusak hutan paling hebat.

            Refleksi gerakan kita adalah kemudian mempertanyakan pada diri sendiri. Ini sering saya tulis : Energi kita, power organisasi sosial habis untuk memerangi korupsi, mengkampnayekan gender, good goverment, anti pornografi, dan macam-macam yang itu memang melawan kemungkaran yang ditimbulkan manusia. Kalau kita dihadapkan dengan daulat alam, bencana dan perubahan iklim global kadang kita baru menyadari bahwa kita bukanlah apa-apa, kita tidak bisa berbuat banyak untuk kehidupan. Ini merupakan bahan permenungan bersama.

)*Penulis adalah ketua Pengkajian Ilmu Pengetahuan

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammaidyah

Tinggal di Karangjati-Jogjakarta

Tips

7 Keuntungan Membaca 

Pertama, kita mesti percaya bahwa membaca adalah kunci untuk membuka gerbang ilmu kesemestaan. Seentara buku adalah jendela dunia yang terhampar luasnya. Dnengan demikian kita menimani ayat Allah tentang seruan Iqro’, perintah membaca yang terdapat dalam salah satu ayat al Quran surat al Alaq yang berbunyi: “Bacalah dengan  mengagungkan nama tuhanmu yang telah menciptakanmu…” . Banyak ilmuwan baik dari kalangan muslim maupun non muslim memuji kehadiaran ayat ini dan dianggap sebagai ayat pertama yang meletakkan sendi-sendi seradaban melalaui sebuah perintah agung: BACALAH!.

“Iqro”: Bacalah, demikian setiap insan diperintahkan oleh sang penguasa Semesta. Dan kita ditutntut untuk mencoba memaknai dan melaksanakan serta mengambil hikmah dari perintah tersebut. Membaca seperti apa yang diperintahkan?  Rasanya bukan sekedar perintah membaca biasa? Sebagai anak muda pasti kita membutuhkan jawabannya? Iya kan?

Seorang mufasir terkemuka, Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah mengartikan iqro secara istimewa yaitu kegiatan aktif yang meliputi membaca teks, membaca realitas, memahami, meneliti/riset. Jadi, makna iqro itu teramat luasnya sehingga meliputi dimensi tekstual(buku) dan kesemestaan(jagat alam). Kecerdasan yang hendak dibangun oleh tuhan bukanlah kecerdasan mental, otak, spritual, namun kecerdasan emosional yang berdimensi semesta, lingkungan adalah hal yang penting sehingga manusia bisa memahami gerak-gerik dan fenomena alam. Artinya membaca di sini itu diwarnai dengan semangat daya pikir yang total-menyeluruh, mengingat, menganalisa dan bakan membayangkan sebuah langkah untuk mengatasi sebuah permasalahan. Berbagai bencana alam yang terjadi di negeri ini adalah menuntut refleksi kita, sejauh mana kita mampu bersahabat dan membaca nalar alam yang mempunyai “the power of nature”.

Baiklah saya mensarikan dari sebuah lembaga training terkemuka, EXPERD,  tentang berita penting: 7 keuntungan Membaca alam semesta (Eilan Rachman dan Sylvina Savitri ):

  1. Mengusir keraguan, kecemasan, dan kesedihan.
  2. Menebalkan keimanan, karena sesungguhnya bacaan pelajaran yang paling besar, peringatan yang paling agung, pencegahan kemungkaran yang paling efesien, dan perintah yang paling bijak.
  3. Melemaskan lidah dan menghiasi diri dengan kefasihan berbicara
  4. Mengembangkan wawasan berfikir dan memperbaiki persepsi.
  5. Mengambil manfaat dari pengalaman orang lain
  6. Menelaah berbagai kebudayaan yang menumbuhkan kesadaran akan perannya dalam kehidupan.
  7. Menjaga kalbu dari kekacauan, dan memelihara waktu dari ke sia-siaan.

Luar biasa manfaat membaca itu kalau kita mau melakukannya. Kalau tidak ya bagaimana mungkin bisa memproleh manfaat dari sebuah tradisi “agung” yang bernama membaca. Apabila kita membicarakan membaca dalam arti membaca teks maka ini akan dikaitkan dengan sikap intelktualitas kita. Sikap intelektual sangat berkaitan dengan bacaan yang dikonsumsi sehar-hari sehingga ada yang mengatakan bahwa : “you are what you read!!” dan kadar itelektualitas itu juga cukup dipengaruhi oleh cara membaca. Ada orang yang yang membaca sambil berimajinasi, mengambil intisari, menggarisbawahi, bahkan ada yang membaca daftar isinya saja, lalu dilajutkan yang .enarik untuk dibaca dan sebagainya dan sebagainya.

Seorang yang cerdas membaca perlu mampu membaca buku dengan menghadirkan konteks dan lingkungan yang mengelilinginya. Terhadap sebuah tulisan pembaca perlu hadir, menyerap, menyimpulkan, mengulang/review, dan juga memperjelas.

Selamat membaca alam semesta!!

Dave Ef,

Ketua PP Ikatan Remaja Muhammadiyah

Kata Mereka

pesan untuk Pelajar Muhammadiyah

“Membaca buku adalah membaca diri sendiri, membaca buku adalah membuka hati untuk menemukan jalan-jalan rahasia menuju kebesaran Ilahi, membaca buku yang bermanfaat berarti merayakan kehidupan untuk belajar mensyukuri setiap percik nikmat-NYA”

Andrea Hirata, penulis Tetralogi Laskar Pelangi

« Older entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.